Modal Sosial di Balik Gerak Cepat Layanan Darurat Tim Damkar
Pelalawan – Kecepatan layanan darurat pemadam kebakaran tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan armada dan peralatan, tetapi juga oleh kekuatan hubungan sosial, kepercayaan, dan koordinasi antar pihak yang terlibat dalam penanganan kejadian di lapangan.
Hal tersebut disampaikan Zukriwan, mahasiswa Program Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak) sekaligus Kepala Bidang pada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Pelalawan.

Zukriwan Mensosialisasikan Teknik Dan Cara Menggunakan Sarpras Untuk Memadamkan Api
Menurutnya, pengalaman bekerja di lingkungan pemadam kebakaran memberikan banyak pelajaran mengenai pentingnya tata kelola organisasi yang efektif. Ia mengaku, bimbingan dosennya, Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M., membantunya melihat berbagai persoalan organisasi secara lebih akademik dan objektif.
"Isu yang saya angkat berkaitan dengan koordinasi antarbagian. Dalam pengamatan saya, persoalannya terlihat dari proses menyatukan tindakan, sumber daya, dan komando dari beberapa instansi yang berbeda agar tujuan yang sama dapat tercapai," ujar Zukriwan.
Ia menegaskan bahwa pembahasan persoalan tersebut bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk menemukan solusi perbaikan yang dapat diterapkan secara bersama-sama.
Menurutnya, permasalahan yang dihadapi organisasi pemadam kebakaran berasal dari faktor internal maupun eksternal. Dari sisi internal, tantangan yang muncul antara lain kurangnya komunikasi, rendahnya tingkat kepercayaan antaranggota, konflik internal, minimnya transfer pengetahuan, serta terbentuknya kelompok-kelompok eksklusif di dalam organisasi.
Sementara itu, dari sisi eksternal, hambatan yang dihadapi meliputi rendahnya kesadaran masyarakat, terbatasnya kepercayaan publik, lemahnya koordinasi antarinstansi, kurangnya dukungan dari para pemangku kepentingan, serta keterbatasan sumber daya yang tersedia.
"Kondisi tersebut menyebabkan organisasi menjadi rentan dari dalam, sementara hambatan dari luar membuat pelayanan belum sepenuhnya memenuhi harapan masyarakat," jelasnya.
Untuk memperkuat analisis tersebut, Zukriwan menggunakan pendekatan Social Capital Theory atau Teori Modal Sosial. Teori ini menjelaskan bahwa hubungan sosial, kepercayaan, jaringan, dan kerja sama merupakan sumber daya penting dalam meningkatkan efektivitas individu maupun organisasi.
Dalam konteks pemadam kebakaran, modal sosial menjadi faktor penting karena keberhasilan tugas sangat bergantung pada koordinasi yang baik, solidaritas antaranggota, kepercayaan dalam tim, serta hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan instansi terkait.
Mengenai solusi yang dinilai paling realistis, Zukriwan menilai perbaikan harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
"Saya melihat solusinya adalah memperkuat tim dari dalam melalui perbaikan komunikasi, pembangunan kepercayaan, penyelesaian konflik, peningkatan transfer pengetahuan, serta menghilangkan kelompok-kelompok eksklusif," katanya.
Dari sisi eksternal, ia menilai organisasi perlu memperkuat kepercayaan antarinstansi, memperluas jaringan lintas sektor, meningkatkan manfaat bagi masyarakat, serta memperkuat prinsip pelayanan 3T, yakni cepat, tepat, dan dekat.
"Yang terpenting, seluruh solusi tersebut dijalankan melalui komunikasi yang baik, tidak memojokkan siapa pun, dan dapat diterima oleh seluruh pihak yang terlibat dalam organisasi," tambahnya.
Sementara itu, Dr. Chandra, yang dikenal sebagai praktisi, peneliti, sekaligus pemerhati ilmu manajemen, menilai gagasan yang disampaikan Zukriwan sangat relevan dengan Teori Modal Sosial.
Menurutnya, unsur kepercayaan (trust), jaringan (network), hubungan timbal balik (reciprocity), serta kerja sama lintas sektor merupakan modal utama dalam mewujudkan pelayanan pemadam kebakaran yang efektif dan responsif.
Ia menyarankan agar kajian tersebut dilengkapi dengan data mengenai koordinasi lintas instansi, waktu respons penanganan kejadian, tingkat kepercayaan masyarakat, kualitas jejaring dengan pemangku kepentingan, serta bentuk bonding social capital dan bridging social capital yang berkembang di dalam organisasi.
"Dengan demikian, penguatan modal sosial dapat diterjemahkan menjadi pelayanan darurat yang lebih cepat, tepat, dekat, dan semakin dipercaya oleh masyarakat," pungkasnya.










Erizal 


















